Defenisi Ilmu Belajar

May 14, 2010 at 8:59 pm 1 comment

  1. A. Definisi Ilmu Jiwa Belajar

Secara umum dapat dikatakan bahwa kata jiwa (Indonesia), Psyche (Yunani) dan Nafs (Arab) mempunyai pengertian yang sama. Ketiganya mempunyai pengertian sebagai “daya hidup”, atau potensi yang terpendam dalam diri, yangn menyebabkan dan menjadikan manusia dan makhluk-makhluk lainnya, hidup dan berkehidupan atau berperilaku. Hidup, artinya: gerak, tumbuh dan berkembang. Berkehidupan, artinya mempunyai cara atau pola tertentu dalam gerak, tumbuh dan berkembangnya; sedang yang berperilaku, yang dimaksudkan; mempunyai cara, atau pola tertentu dalam tingkah laku dan perbuatan-perbuatannya, yang sekaligus merupakan gejala/petunjuk akan adanya hidup dan kehidupannya. Dengan demikian, gerakan, pertumbuhan dan perkembangan serta perilaku itulah, yang menjadi petunjuk atau gejala adanya jiwa pada seseorang.[1]

Ilmu jiwa belajar dipersepsikan dalam psikologi belajar, psikologi belajar adalah sebuah fase yang terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan belajar, Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu, jadi, secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa.

Sedangkan belajar itu sendiri secara sederhana dapat diberi definisi sebagai aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya, aktivitas disini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikologi, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (efektif) dan karsa (psychomotor).[2]

Adapun belajar menurut anggapan sementara orang adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar.[3]

Ada juga beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut:

  1. Menurut O. Whitaker, belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Learning may be defined as the proses by which behavior originates or is altered through training or experience” (Whittaker, 1970:15)

  1. Menurut Howard L. Kingsley

“Learning is the process by which behavior (is the broader sense) is originated or changed through practice or training” (Kingsley, 1957: 12).

Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) di timbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.[4]Menurut Skimmer, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya “educational psychology”

Belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.[5]

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu jiwa belajar (psikologi belajar) adalah sebuah disiplin psikologi yang berisi teori-teori psikologi mengenai belajar, terutama mengupas bagaimana cara individu belajar atau melakukan pembelajaran.

  1. Objek Materil Dan Objek Formil Ilmu Jiwa Belajar
  2. Objek Materil, yaitu objek yang bersifat umum, yang juga menjadi objek bersama dari ilmu-ilmu lainnya yang sejenis (objek dari ilmu induknya)

Objek materil ilmu ini adalah sama dengan objek materil psikologi-psikologi lainnya, yaitu penghayatan dan tingkah laku manusia, atau oleh Crow & Crow disebut  sebagai Human Behavior and Human Relationship.

  1. Objek Formil, yaitu objek khas / khusus yang hanya menjadi objek sasaran studi tersendiri dari ilmu yang bersangkutan dan berbeda dengan objek-objek ilmu lainnya. Pada umumnya objek formal ini, merupakan bagian tertentu atau aspek khusus dari objek materialnya, dan itu bisa dilihat dari definisi disiplin ilmu yang bersangkutan.

Objek Formil (sasaran khusus yang membentuknya), adalah aspek khusus atau sudut tinjauan tertentu dari / terhadap objek materialnya. Maka, objek formil dari ilmu ini adalah “Proses membimbing mengajar dan melatih anak”[6]

  1. Metode Ilmu Jiwa Belajar

Dalam Ilmu Jiwa Belajar metode-metode yang digunakan ada:

  1. Metode Introspeksi
  2. Metode Observasi
  3. Metode Eksperimen
  4. Metode Test
  5. Metode Angket
  6. Metode Proyeksi
  7. Metode Case Studi
  8. Metode Klinis
  1. Metode Introspeksi

Metode ini adalah suatu metode yang tertua, metode ini dipergunakan untuk menyelidiki proses-proses kejiwaan yang berlangsung pada diri sendiri, banyak ahli yang keberatan untuk menggunakan metode ini sebagai alat penyelidikan dengan mengemukakan bermacam-macam alasan diantaranya yang penting adalah instrospeksi ini tidak mungkin objektif / hasilnya atau dengan kata lain mengandung beberapa kelemahan yaitu:

1)      Pada waktu mengamati apa yang terjadi pada dirinya sendiri sebenarnya  menghayati sesuatu objek yang telah merupakan campuran proses yang sebenarnya diselidiki dari proses akibat melakukan penyelidikan

2)      Instrospeksi mengandung sugesti karena pengaruh ini akan sering terjadi sesuatu yang sebenarnya masih belum jelas telha ditafsirkan sebagai sesuatu yang telah nampak dengan jelas

3)      Instrospeksi tergantung pada ingatan sedangkan ingatan tidak 100% benar, akibatnya sering banyak yang dilupakan dan agar bisa memberikan gambaran yang lengkap mengenai situasinya orang melengkapi dengan kerja fantasi

4)      Pada manusia ada kecenderungan untuk melindungi egonya, maka seringkali dia lupa menyampaikan hasil penghayatan mengenai dirinya yang sekiranya hasil itu menggangu egonya. Instrospeksi juga mengandung kelemahan-kelemahan, namun demikian instrospeksi juga mengandung keuntungan-keuntungan, yaitu:

a)      Banyak gejala psikis yang hanya dapat diselidiki dengan metode instrospeksi

b)      Bila orang disuruh mengadakan instospeksi dengan hanya memberikan laporan mengenai garis besar dari peristiwa yang dialami pada umumnya laporan masih objektif

c)      Instrospeksi sebenarnya merupakan dasar dari ekstropeksi, bila orang melukiskan hasil pengalamannya mengenai diri orang lain sebenarnya telah melukiskan apa yang dialaminya pada diri sendiri akibat melakukan pengamatan itu.[7]

Auguste Comte seorang ahli Filsafat Prancis, mengatakan bahwa instospeksi tak mungkin memberi hasil yang baik, karena tidak ada orang yang dapat mempelajari peristiwa-peristiwa jiwanya sendiri secara objektif. Misalnya, seorang yang sedang marah, tak mungkin ia dengan tenang dan objektif menyelidiki jiwanya sendiri. Jika ia menyelidikinya, maka hilanglah kemarahan tersebut

William Stern (Jerman) mengemukakan keberatan-keberatan terhadap instrospeksi ialah: bahwa instrospeksi yang diselidiki hanya bagian-bagian yang disadari saja. Sedang bagian-bagian yang tidak disadari tidak ikut dipelajari. Disamping itu hal-hal yang bersifat rendah kadang-kadang disembunyikan, karena malu dan sebagainya

Wilhem Wundt, ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, mengatakan bahwa didalam penyelidikan jiwa sendir telha tpat dipakai istilah retrospeksi artinya melihat kembali (Retro= kembali). Sebab dalam prakteknya yang kita selidiki itu adalah peristiwa-peristiwa yang lampau, bukan yang sedang terjadi.[8]

  1. Metode Observasi

Metode Observasi, atau metode pengamatan, observasi atau pengamatan, adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Ada dua macam observsinya, yaitu:

1)      Observasi langung (non – sistematis) tidak menggunakan instrument observasi, hanya menggunakan alat indera semata-mata

2)      Observasi sistematis, yaitu dengan menggunakan instrument pengamatan, yang telah dipersiapkan secara sistematis dan terencana sebelumnya. Dengan metode observasi sistematis, peneliti akan mendapatkan data yang objektif, namun peneliti memerlukan waktu yang lama dan sering tidak efisien, Karen observasi terikat pada waktu dan tempat terjadinya objek yang diamati. Terikat pada waktu, artinya peneliti harus menunggun samapi gejala/objek yang diamati terjadi dengan sendirinya, sedangkan terikat pada tempat, artinya peneliti harus berada di tempat kejadian gejala / objek yang diobservasi

  1. Metode Eksperimen

Metode eksperimen atau percobaan, yaitu suatu cara penelitian dengan jalan menimbulkan gejala atau perilaku tertentu, dalam situasi dan kondisi tertentu pula dengan sengaja, untuk dijadikan suatu objek penelitian. Dengan demikian semua kondisi atau keadaan situasi dan gejala-gejala yang diselidiki bisa dikontrol. Dan observasi ini bisa dilakukan dengan baik didalam laboratorium, maupun diluarnya. Dan dengan demikian, kalemahan metode observasi bisa dihindari. Namun eksperimen mampunyai kelemahan, yaitu: 1) bahwa tidak semua gejala-gejala psikis dapat diselidiki secara eksperimen, misalnya gejala-gejala/perilaku yang bersifat spontanitas. 2) karena alasan moral, psikologis dan pedagogis, eksperimen tidak bisa dilakukan misalnya terhadap gejala/gejala/perilaku yang tidak wajar, tidak normal, melanggar norma-norma dan sebagainya.

  1. Metode Test

Metode Test, atau pengukuran; yaitu suatu cara penelitian dengan jalan mengadakan tes atau pengukuran terhadap gejala/perilaku yang diselidiki. Tes itu sendiri adalah berupa “pertanyaan – pertanyaan yang harus dijalankan, yang berdasar atas bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, penyelidikan mengambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standar atau testee yang lain. Ada dua macam tes, yaitu:

1)      Tes terstandar, yang sudah teruji berulang-ulang validitasnya, dan

2)      Tes non standar, yang dibuat sendiri oleh peneliti, sesuai dengan tujuan/sasaran penelitiannya, yang validitasnya belum teruji.[9]

Menurut Pekerjaan yang diselidiki Tes Dapat Dibagi Menjadi Beberapa Macam diantaranya:

1)      Tes Kecerdasan

2)      Tes Perhatian

3)      Tes Ingatan dan sebagainya

Menurut orang yang diselidikinya tes dapat dibagi menjadi 2 macam:

1)      Tes Perseorangan

2)      Tes Gerombolan

Menurut cara menilai jawabannya, tes dapat dibagi pula dalam 2 macam, yaitu:

1)      Tes Alternatif, ialah menilai dengan betul atau salah

2)      Tes Gradual, ialah menilai dengan beberapa tingkatan misalnya: salah sama sekali, salah sedikit, agak betul, hampir betul, dan sebagainya.[10]

  1. Metode Angket

Metode Angket/kuesioner yaitu suatu cara penyelidikan dalam bentuk bertanya,dengan menggunakan bentuk daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Angket dibedakan menjadi:

1)      Angket langsung; mengenai pengalaman sendiri, (pertanyaan tentang pengalaman orang yang bersangkutan); dan

2)      Angket tidak langsung; yaitu memberikan keterangan/jawaban pertanyaan tentang orang lain.

Kebaikan dari metode ini, adalah bahwa dengan usaha dan biaya yang relatf kecil, bisa terkumpul data/lahan yang besar jumlahnya. Adapun kelemahannya, kurang terjaminnya objektifitas data yang terkumpul

Menurut luas objeknya angket dapat pula dibagi:

1)      Angket umum, ialah angket bertujuan memperoleh gambaran selengkap-lengkapnya mengenai jiwa (psikografi) seseorang

2)      Angket khusus, ialah angket yang bertujuan memperoleh gambaran-gambaran khusus mengenai satu hal saja. Misalnya watak seseorang.[11]

  1. Metode Proyeksi

Adalah sutau metode yang dilakukan dengan jalan menyajikan suatu bahan (gambar, permainan, tulisan, dan lain sebagainya) kepada individu dimana diharapkan adanya jawaban yang berwujud pendapat atau sikap yang merupakan proyeksi dan pribadinya.

Keberatannya:

1)      Memerlukan penyelidik yang ahli dan berpengalaman

2)      Penafsiran terhadap jawaban sering dipengaruhi oleh perasaan dan sikapnya sendiri sehingga kurang objektif.

  1. Metode Case Studi

Adalah penyelidikan terhadap individu secara mendalam meliputi latar belakang social, fisik dan psikis. Waktunya cukup lama dan melalui berbagai periode pertumbuhan.

  1. Metode Klinis

Adalah metode penyelidikan secara mendalam kepada individu yang menyimpang dari tingkah laku norma untuk diagnosanya.[12]

  1. Tujuan Ilmu Jiwa Belajar
  2. Belajar adalah suatu usaha perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indera, otak dan anggota tubuh lainnya. Demikian pula aspek-aspek kejiwaan seperti intelegensi, bakat, motivasi, minat, dan sebagainya.
  3. Belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku.
  4. Belajar bertujuan mengubah kebiasaan dari yang buruk menjadi baik.
  5. Belajar bertujuan untuk mengubah sikap dari negatif menjadi positif.
  6. Belajar menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.[13]
  1. Manfaat Ilmu Jiwa Belajar Bagi Guru Dan Pendidik Secara Umum

Sebelum psikologi memasuki lapangan pendidikan orang beranggarapan bahwa penguasaan mengenai bahwa pelajaran yang akan diberikan kepada anak didik merupakan satu-satunya syarat yang harus dipenuhi bagi guru termasuk calon guru.

Pendapat yang demikian seakan-akan mengemukakan anak sebagai benda-benda mati yang dapat diperlakukan menurut kehendak guru. Akan tetapi dengan terjadinya perkembangan yang luas dalam lapangan pengetahuan ilmu psikologi pada umumnya dan psikologi anak pada khususnya, perkembangan-perkembangan mana disebabkan oleh adanya penyelidikan yang bersifat empiris eksperimental dalam lapangan itu anggapan diatas mulai berubah. Perubahanan itu mulai timbul pada abad ke – 19 orang mulai menyadari dan menginsapi bahwa pengetahuan secara mendalam mengenai mata pelajaran yang diberikan belum cukup untuk menjadi guru yang baik. Disamping itu ada pula dibutuhkan pengetahuan-pengetahuan pelengkap untuk menyiapkan guru secara professional, pendapat baru itu makin lama makin luas pengaruhnya sehingga dalam abad ke – 20 ini Negara-negara yang telah maju telah mendidik tenaga – tenaga ahli yang khusus untuk jabatan guru.

Tenaga-tenaga itu semata-mata ahli dalam pelajaran yang diberikan kepada anak didik tetapi juga menguasai cara-cara yang baik untuk memberikan mata pelajaran itu ditinjau dari segi psikologi dan pendidikan. Hal yang demikian itu sebenarnya merupakan suatu hal yang wajar. Seorang guru harus menguasai mata pelajaran yang diberikan tetapi perlu juga memahami mereka yang dipimpinnya dalam proses pendidikan. Seorang guru yang tidak mengetahui tentang sifat dan hakikat anak dan tidak tahu cara memperlakukan anak sesuai dengan sifat dan hakikatnya seperti halnya dengan petani yang hanya mengerti tentang pupuk dan tanah, tetapi tidak ada pengetahuan mengenai sifat-sifat tanaman yang diberi pupuk itu. Akibatnya tanaman itu mungkin diberi pupuk yang berlebihan (keliru), ditempatkan dibagian akar-akar yang tidak tepat, diberikan pada waktu yang salah bahkan mungkin pupuk itu diberikan dengan jumlah yang banyak atau sebaliknya sehingga tidak sesuai dengan kebutuhannya (tanam-tanaman yang dipupuknya). Dengan uraian diatas jelaslah bahwa pengetahuan psikologi pendidikan merupakan salah satu pengetahuan yang perlu dipelajari dan dipahami oleh seorang guru agar dapat menjalankan tugas sebagai guru dengan cara yang sebaik-baiknya.[14]

Manfaat Psikologi Belajar Bagi Guru adalah

  1. Membantu guru dan calon guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya
  2. Membantu guru dalam memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis
  3. Membantu guru dan pelaksana pendidikan lainnya dalam memberikan pelayanan yang baik terhadap anak dalam pelaksanaan pendidikan.[15]
  4. Bisa membuat program kegiatan belajar mengajar dan menyelenggarakannya secara efektif dan efisien.[16]
    1. Ruang Lingkup Ilmu Jiwa Belajar

Psikologi belajar memiliki ruang lingkup yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 pokok bahasan yang masalah belajar, proses belajar, dan situasi belajar.

Pokok bahasan yang mengenai belajar.

  1. Pokok bahasan mengenai belajar
    1. Teori-teori belajar
    2. Prinsip-prinsip belajar
    3. Hakikat belajar
    4. Jenis-jenis belajar
    5. Aktifitas belajar
    6. Teknik belajar efektif
    7. Karakteristik perubahan hasil belajar
    8. Manifestasi prilaku belajar
    9. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
    10. Pokok bahasan mengenai proses belajar
      1. Tahapan perbuatan belajar
      2. Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama belajar
      3. Pengaruh pengalaman belajar terhadap prilaku individu
      4. Pengaruh motivasi terhadap perilaku belajar
      5. Signifikansi perbedaan individual dalam kecepatan memproses perolehannya melalui transfer belajar.
      6. Pokok bahasan mengenai situasi belajar
        1. Suasana dan keadaan lingkungan fisik
        2. Suasana dan keadaan lingkungan non fisik
        3. Suasana dan keadaan lingkungan sosial
        4. Suasana dan keadaan lingkungan non sosial.[17]

Dalam psikologi pendidikan pada zaman Herbart dan Pestalozzi telah berusaha memasukkan psikologi dalam lapangan pendidikan, akan tetapi cara bekerja mereka masih didasarkan atas hasil renungan semata-mata tanpa diuji kebenarannya dengan pendidikan empiris.

Psikologi pendidikan baru merupakan ilmu yang sebenarnya dalam arti sebagai ilmu yang bersifat empiris, baru timbul pada abad ke-20. Thorndire  orang pertama mengarang buku psikologi pendidikan yang didasarkan atas hasil-hasil penyerdikan empiris experimental pada tahun 1913. Dalam bukunya itu dikemukakan dengan jelas hasil-hasil penyerdikannya dan penggunaannya dalam lapangan pendidikan. Ia antara lain menegaskan pentingnya diciptakan alat-alat pengukuran kemajuan anak yang setepat-tepatnya dan seobyektif-obyektifnya. Dengan diterbitkannya buku itu mulai psikologi pendidikan menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat eksperimentail, selain itu buku tersebut mendorong ahli lain mengadakan penyidikan yang lebih luas dan lebih teliti, penyidikan mana menyebabkan psikologi pendidikan mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga ilmu ini sekarang telah merupakan lapangan spesialisasi.[18]

Ruang lingkup psikologi pendidikan

-         Masalah yang mencakup pembahasan perkembangan individu yang mencakup pembahasan tentang kereditas dan lingkungan, perlengkapan dasar dan ajar, perbedaan-perbedaan individual dan seabagainya.

-         Masalah belajar dan mengajar yang mencakup: pengertian belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi, perlengkapan belajarm motivasi belajar teori-teori belajar, transfer belajar, dan sebagainya.

-         Masalah pengukuran dan penilaian yang mencakup masalah: prinsip-prinsip testing, pengukuran kecerdasan, hasil belajar, perbuatan belajar dan sebagainya.

-         Masalah bimbingan dan penyuluhan yang mencakup masalah dasar-dasar bimbingan, macam-macam serta tujuannya, termasuk di dalam mental hygiene.[19]

Secara garis besar, banyak ahli yang membatasi Ruang Lingkup Ilmu Jiwa Belajar menjadi tiga macam:

  1. Pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori – teori, prinsip-prinsip, dan cirri – cirri  khas perilaku belajar siswa, dan sebagainya
  2. Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa.
  3. Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa.[20]

[1] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya, Karya Abditama, 1994), 5

[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2008), hal. 1-2

[3] Alex Sobur, Psikologi Umum (Bandung Pustaka Setia, 2003), hal. 217

[4] Abu Ahmadi Mdodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), hal. 119-120

[5] Muhibbin syah, psikologi belajar, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 64

[6] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya, Karya Abditama, 1994),  13

[7] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Rhineka Cipta, 1991), 8

[8] Abu Ahmadi, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Ipta, 2004), 18

[9] Tadjab, MA., Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya, Karya Abditama, 1994), 16

[10] Abu Ahmadi, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Ipta, 2004), 22

[11] Ibid, 18

[12] Drs. M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Rhineka Cipta, 1997), 12

[13] Drs. Anwar Bey Hasibuan, Psikologi Pendidikan, (Medan, Pustaka Widyasarana, 1994), hal. -

[14] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Rhineka Cipta, 1991), 9

[15] Umam Cholil, Ikhtisar Psikologi Pendidikan,(Surabaya, Duta Aksara, 1998), 14

[16] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya, Karya Abditama, 1994), 17

[17] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2008), hal. 3-4

[18] Muttaqin, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 5

[19] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hal. 19-17

[20] Drs. M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta, PT Rineka Cipta, 2005), 13

Entry filed under: Psikologi Belajar. Tags: , , .

Relasi Fiqih dan Sufisme

1 Comment Add your own

  • 1. mol molzu  |  November 30, 2010 at 8:31 am

    bisa kirim makalah makalah yang anda punya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

May 2010
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tulisan Terbaru

Blog Stats

  • 150,734 hits

Pages

RSS Blog Update

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: