Posts filed under ‘Filsafat Pendidikan Islam’

Mengenal Filsafat Fenomenologi


Pendahuluan

Di dalam kehidupan praktis sehari-hari, manusia bergerak di dalam dunia yang telah diselubungi dengan penafsiran-penafsiran dan kategori-kategori ilmu pengetahuan dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu seringkali diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi-situasi kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga ia telah melupakan dunia apa adanya, dunia kehidupan yang murni, tempat berpijaknya segala bentuk penafsiran.

Dominasi paradigma positivisme selama bertahun-tahun terhadap dunia keilmuwanl, tidak hanya dalam ilmu-ilmu alam tetapi juga pada ilmu-ilmu sosial bahkan ilmu humanities, telah mengakibatkan krisis ilmu pengetahuan. Persoalannya bukan penerapan pola pikir positivistis terhadap ilmu-ilmu alam, karena hal itu memang sesuai, melainkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu masyarakat dan manusia sebagai makhluk historis.

Problematik positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yang menghilangkan peranan subjek dalam membentuk ‘fakta sosial’, telah mendorong munculnya upaya untuk mencari dasar dan dukungan metodologis baru bagi ilmu sosial dengan ‘mengembalikan’ peran subjek kedalam proses keilmuwan itu sendiri. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan fenomenologi yang secara ringkas akan dibahas di bawah ini.

(more…)

May 18, 2009 at 10:41 pm 2 comments

Hakekat Pendidik Dan Peserta Didik


Oleh : Muhdlar Abdullah*

BAB I
Pendahuluan

Sebelum kami menjelskan Hakekat Pendidik dan Pesrta Didik pelu kiranya kami menjelaskan apa pendidikan itu. Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian secara umum adalah selalu berdasarkan pada apa yang dapat kita saksikan dalam semua macam pendidikan, maka dengan demikian teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu tuntunan dadalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun yang di maksud dengan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dan perlu kita ketahui bahwa di dalam “pendidikan” mempunyai pengertian suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung beberapa unsur-unsur yang harus diperhatikan, diantaranya adalah :

1)Didalam bimbingan ada pembimbingnya ( pendidik ) dan yang dibimbing (terdidik).
2)Bimbingan mempunyai arah yang bertitik tolak pada dasar pendidikan dan berakhir pada tujuaqn pendidikan.
3)Bimbingan berlangsung pada suatu tempat, lingkungan atau lembaga pendidikan tertentu.
4)Bimbingan merupakan proses, maka harus proses ini berlangsung dalam jangka waktu terntu.
5)Didalam bimbingan harus mempunyai bahan yang akan disampaikan pada anak didik untuk mengembangkan pribadi seperti yang di inginkan.
6)Didalam bimbingan menggunakan metode tertentu.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakekat Pendidik
Dikutip dari Abudin Nata, pengertian pendidik adalah orang yang mendidik.Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat di artikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan.

Jika menjelaskan pendidik ini selalu dikaitkan dengan bidang tugas dan pekejaan, maka fareable yang melekat adalah lembaga pendidika. Dan ini juga menunjukkan bahwa akhirnya pendidik merupakan profesi atau keahlian tertentu yang melekat pada diri seseorang yang tugasnya adalah mendidik atau memberrikan pendidikan.

a.Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik.
Tugas-tugas dari seorang pendidik adalah :
1)Membimbing peserta didik, dalam artian mencari pengenalan terhadap anak didik mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya.
2)Menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu ; suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidik dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
3)Seorang penddidik harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, seperti pengetahuan keagamaan, dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, bahwa tugas pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membaha hati manusia untuk Taqarrub kepada Allah SWT.

Sedangkan tanggung jawab dari seorang pendidik adalah :
1)Bertanggung moral.
2)Bertanggung jawab dalam bidang pedidikan.
3)Tanggung jawab kemasyarakatan.
4)Bertanggung jawab dalam bidang keilmuan.

b.Tujuan Pendidik.
Pendidik adalah orang yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya demi mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk tuhan, makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

Orang yang pertama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak atau pendidikan anak adalah orang tuanya, karena adanya pertalian darah secara langsung sehingga ia mempunyai rasa tanggung jawab terhadap masa depan anaknya.
Orang tua disebut juga sebagai pendidik kodrat. Namun karena mereka tidak mempunayai kemampuan, waktu dan sebagainya, maka mereka menyerahkan sebagian tanggung jawabnya kepada orang lain yang dikira mampu atau berkompeten untuk melaksanakan tugas mendidik.

B. Syarat-syarat dan Sifat-sifat yang Harus dimiliki oleh Seorang Pendidik.
Syarat-syarat umum bagi seorang pendidik adalah : Sehat Jasmani dan Sehat Rohani. Menurut H. Mubangit, syarat untuk menjadi seorang pendidik yaitu :
1)Harus beragama.
2)Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama.
3)Tidak kalah dengan guru-guru umum lainnya dalam membentuk Negara yang demokratis.
4)Harus memiliki perasaan panggilan murni.

Sedangkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah :
1)Integritas peribadi, peribadi yang segala aspeknya berkembang secara harmonis.
2)Integritas sosial, yaitu peribadi yang merupakan satuan dengan masyarakat.
3)Integritas susila, yaitu peribadi yang telah menyatukan diri dengan norma-norma susila yang dipilihnya.

Adapun menurut Prof. Dr. Moh. Athiyah al-Abrasyi, seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat tertenru agar ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh beliau adalah :

1)Memiliki sifat Zuhud, dalam artian tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari ridha Allah.
2)Seorang Guru harus jauh dari dosa besar.
3)Ikhlas dalam pekerjaan.
4)Bersifat pemaaf.
5)Harus mencintai peserta didiknya.

C.Hakekat Peserta Didik
Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.
Didalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.

Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan dari orang tuanya. Dasar-dasar kpdrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara lain :

1). Aspek Paedogogis.
Dalam aspek ini para pendidik mendorang manusia sebagai animal educandum, makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.

2). Aspek Sosiologi dan Kultural.
Menurut ahli sosiologi, pada perinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhlik yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.

3). Aspek Tauhid.
Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya tuhan) atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).

KESIMPULAN

Pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat di artikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan.

Seorang pendidik mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugas-tugasnya sebagai seorang pendidik. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ghazali bahwa” tugas pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, menyempurnakan serta membawa hati manusia untuk Taqarrub kepada Allah SWT.

Sedangkan peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, dimana mereka sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.

DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta 2005.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Islam, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1984.
Suwarno, Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta :Rineka cipta, 1981.
H. M. Arifin, Ilmu Pendidian Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1991.
Hamdani Ihsan, Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia, 1998.
Nasution S. Sosialisasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1995

* Adalah Mahasiswa Jurtusan Pendidikan Bahasa Arab Fak. Tarbiyah IAIN SUnan Ampel Surabaya angkatan 2007.

May 18, 2009 at 4:29 am Leave a comment

MAKNA DAN HAKEKAT METODE PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakakang

Dalam makalah yang kami susun ini, kami mencoba untuk mengkaji tentag salah satu unsur proses pendidikan, yaitu mengenai makna dan hakikat metode pendidikan. Dalam uraian yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu ; pentingnya sebuah metode dalam pendidkan agar mencapai suatu tujuan sesuai dengan kurikulum yang dicanangkan, ada sebuah pernyataan bahwa “metode lebih utama dari pada materi” karena metode itu bagaikan roh, sedangkan materi adalah raganya. Apa gunganya kemapanan sebuah materi tanapa disertai dengan cara yang baik dalam penyampaiannya.

Sedangkan pembahasan dalam makalah ini bersifat ringkas dan praktis, sekedar menyebutkan dan membahas masalah yang sangat penting dan mengkhususkan pada pembahasan mengenai definisi metode pendidikan, fungsi, macam-macam dan asas-asas umum dalam metode pendidikan. Dan sebelum itu kami sedikit mengulas pandangan dasar filosofis dan pandangan dasar teoritis mengenai metode pendidikan.


B.Rumusan Masalah

1.Apa Yang Menjai Dasar Filosofis Dan Dasar Teoritis Metode Pendidikan?
2.Apakah Pengertian Metode Pendidikan?
3.Bagaimanakah Fungsi Metode Pendidikan?
4.Apa Sajakah Macam-macam Metode Pendidikan?
5.Dan Apa Sajakah Yanga Menjadi Asas-asas Umum Metode Pendidikan?

C.Tujuan
Makalah ini kami buat dengan dasar pemikiran yang sangat sederhana agar para pembaca gampang dalam memahaminya.
sedangkan tujuan pokok dalam makalah ini adalah memberi pengrtian ringkas singkat dan jeneral tentang sifat-sifat falsafah dalam metode pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.Dasar Filosofis Dan Dasar Teoritis
Ketika berbicara mengenai nilai-nilai, makana, dan hakekat, maka filsafat perlu dipertimbangkan agar pilihan kita menjadi bijaksana. Hal ini sangat relevan ketika diperbincangkan tentang “Makana Dan Hakekat Metode Pendidikan,” karena ia menyangkut pembentukan keperibadian manusia dan kualitas hidup mereka.
Dibawah ini kami akan menguraikan hubungan pemilihan metode berkaitan dengan masalah filsafat.

1.Kalau dipandang dari pemntukan karakter yang berlangsung dalam diri seriap anak, maka belajar adalah suatu bagian terpaut pada pengalaman kehidupan yang secara berkumulatif menyerap kedalam sifat-sifat karakter. Misalnya dalam tanggapan anak terhadap suatu otoritas pada dirinya mempunyai makna yang sangat berkesan pada dirinya. Tindakan orang tua atau guru sangat mempengaruhi terhadap mental dan karakter anak, baik itu berdampak pada kepatuhan ataupun perlawanan anak. Hal ini sangat mempunyai hubungan erat dengan permasalahan metode.

2.Berbagai cara yang berbeda dalam mendidik dapat mempengaruhi tipe korelasi tanggapan anak didik dalam membentuk sifat-sifat karakter. Dengan adanya perbedaan tersebut yang dapat membentuk perbedaan karakter pula dibutuhkan pememilihan metode yang teliti.

3.Dengan mempertimbangkan masyarakat sekolah yang menjadi sasaran pendidikan tentunya juga membutuhkan sebuah metode.

Mengenai metode dapat diartikan secara sempit dan juga dapat diartikan secara luas. Secara sempit ia hanya menyangkut mata pelajaran yang akan diajarkan dan bagaimana mengelola tipe mengajar yang terbatas. Tetapi secara luas masalah metode ini menyangkut dengan banyak nilai yang akan ditegakkan, seperti nilai mata pelajaran, sikap dan karakter yang akan dibangun, pengaruh kehidupan demokrasi, nilai-nilai masyarakat, dan semua masalah yang berkaitan dengan situasi khusus. Bagaimana berbuat dengan anak menyangkut nilai-nilai tersebut tadi, sebenarnya berfilsafat. Distu kita menimbang-nimbang nilai yang akan dipegang dan mencari mana yang lebih dalam yang patut di ikuti.

Selanjutnya metode dan pelajaran adalah satu-kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, walaupun ada paham dualisme yang menyatakan bahwa “jiwa dan dunia benda termasuk adalah dua yang terpisah dan mempunyai alam yang berdiri sendiri.” Namun metode dan pelajaran dalam kenyataannya merupakan bahan suatu ilmu pengetahuan yang terorganisir dalam satu bentuk dan tidak dapat dipisahkan, jadi metode itu tak pernah berada diluar pelajaran dan tidak pernah bertentangan, melainkan metode dapat membawa dan mengarahkan pelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

B.Pengertian Metode Pendidikan
Mangenai metode pendidikan sejauh refrensi yang kami baca tidak dapat kami temukan definisi yang menyeluruh dan saling melengkapi. Atau menurut ahli logika tidak terdapat definisi yang melingkupi (genera) dan membatasi (differentia). Namun dengan definisi etimologi dan penjelsan tokoh skaligus pendefinisian al-Qur’an kiranya bisa membentuk sebuah definisi yang sesuai dengan jiwa dan falsafah pendidikan.
Secara bahasa metode berasal dari dua perkataan “meta” dan “hodos.” “meta” berarti ”melalui.” Dan ”hodos” berarti ”jalan atau cara”, bila ditambah “logi” sehingga menjadi “metodologi” berarti “ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui” untuk mencapai tujuan, oleh karena kata “logi” yang berasal dari kata yunani (Greek) “logos berarti akal” atau “ilmu”.

Dalam pernyataan beberapa tokoh Edgar Bruce Wesley mendefinisikan metode dalam bidang pendidikan sebagai: “rentetan kegiatan terarah bagi guru yang menyebabkan timbulnya proses belajar pada murid-murid, atau ia adalah proses yang melaksanakannya yang sempurna menghasilkan proses belajar, atau ia adalah jalan yang dengannya pengajaran itu menhadi berkesan.”

Prof. Saleh Abd. Aziz dan Dr. Abd. Aziz Abd. Majid meminjam dua makna metode pengajaran dari pendidik Amerika Kilpatrick, yaitu makna yang sempit yang bertujuan menyampaikan maklumat, dan makna yang luas dan menyeluruh, yaitu memperoleh mklumat-maklumat ditambah dengan pandangan, kebiasaan berpikir dan lain-lainnya. “Dan pandangan-pandangan atau sikap ini seperti cinta pada ilmu, guru dan sekolah, menghormati dan mencintai orang lain, dan bergantung pada diri sendiri”.
Metode menurut Imam Barnadib adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusen data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut, maka usaha pengembangan metode itu sendiri merupakan syarat mutlak.

Dengan demikian metode adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan dengan jalan yang sudah ditentukan, dalam metode pendidikan dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ditentukan.
Apabila ditarik pada pendidikan islam, metode dapat diartikan sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi islami.

Adapun al-Qur’an secara eksplisit tidak menjelaskan arti dari metode pendidikan karena al-Qur’an bukan ilmu pengetahuan tentang pendidikan. Namun kata metode dalam bahasa arab yang lebih mengenak dibahasakan dengan kata Attariqoh banyak dijumpai dalam al-Qur’an. Menurut Muhammad Abd al-Baqi didalam al-Qura’an kata Al-Tariqah di ulang sebanyak sembilan kali. Kata ini taerkadang dihubungkan dengan objek yang dituju oleh Al-Tariqah. Seperti nerka, sehingga menjadi jalan menuju neraka (Q.S. : 4:9), terkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti al-tariqah al-mustaqimah, yang diartikan jalan yang lurus (Q.S. 46:30). Dan terkadang al-Qur’an tentang sifat dari jalan yang harus ditempuh itu, dan terkadang pula berarti suatu tempat.

Dengan demikian, metode atau jalan oleh al-Qur’an dilihat dari sudut objeknya, fungsinya, akibatnya, dan sebagainya. Ini dapat diartikan bahwa perhatian al-Qur’an terhadap metode demikian tinggi, dengan demikian al-Qur’an lebih menunjukkan isyarat-isyarat yang memungkinkan metode ini berkembang lebih lanjut.
Dengan berlandaskan pada tiga definitive diatas dapat kami tegaskan bahwa metode pendidikan merupakan sebuah mediator yang mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan suatu teori atau temuan untuk menyampaikan sebuah visi pendidikan kepada tujuannya.

C.Fungsi Metode Pendidikan
Metodologi pendidikan secara umum dapat dikemukakan sebagai mediator pelaksanaan operasional pendidikan. Secara khusus biasanya metodologi pendidikan berhubungan dengan tujuan dan materi pendidikan dan juga dengan kurikulum. Dengan bertolak pada dua pendekatan ini dapat dikatakan bahwa metode berfungsi mengantarkan pada suatu tujuan kepada obyek sasaran tersebut.

Metodologi pendidikan harus mempertimbangkan kebutuhan, ketertarikan, sifat dan kesungguhan para pesrta didik dan juga harus memberikan kesempatan untuk mengembangkan kekuatan intelektualannya. Pendidik dalam memberikan pelajaran atau mendidik peserta didik harus bisa memberi keleluasaan sehinnga peserta didik dapat berperan aktif dalam proses belajar mengajar.

Dalam menyampaikan materi pendidikan perlu ditetapkan metode yang didasarkan kepada pandangan dan persepsi dalam menghadapi manusia sesuai dengan unsure penciptaannya, yaitu, jasmani, akal, dan jiwa yang diarahkan menjadi orang yang sempurna dengan memandang potensi individu setiap peserta didik, oleh karena itu pendidik dituntut agar memahami aspek sikologis dan karakter setiap peserta didik, sebagaimana yang telah dipesankan oleh pemikir besar al-Gazali dan Ibn Kholdun.

Dari sini jelaslah bahwa metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan, bahkan ada sebuah adagium yang menyatakan bahwa “metode lebih utama dari pada materi (al-taiqah aula min al-madah)” disebabkan materi itu bagaikan raga yang harus digerakkan oleh jiwa. Tanpa adanya penggerak yang membawa pada tujuan maka proses pendidikan tidak akan tecapai secara maksimal.

D.Macam-macam Metode Pendidikan
Dalam menguraikan macam-macam metode pendidikan ini kami akan memaparkan dari tiga sudut pandang, dan selanjutnya akan memaparkan macam-macam metode penyampaian materi pendidikan.

Adapun tiga sudut pandang tersebut, yaitu, petama metode yang umum (secara tradisional) dikuasai oleh semua pendidik, kedua metode yang secara khusus dipelajari oleh pendidik, dan yang ketiga metode yang khusus digunakan untuk menilai pelaksanaan program pendidikan.

1.Metode Yang Umum
Metode ini sudah dikenal dan dikuasai oleh semua pendidik melalui pengalaman dan sudah digunakan tanpa ada pendidikan atau diklat khusus. Metode ini mencakup latihan dan meniru, yaitu, melatih anak didik menguasai tujuan tertentu dengan disertai peniruan. Dalam metode ini pendidik sudah menguasi materi yang akan disampaikan pada peserta didik dan sudah dipraktekkan sendiri.

Metode ini digunakan dalam pendidikan di keluarga, lingkungan tetangga, dan juga disekolah dalam rangka pembentukan kebiasaan, pola tingkah laku, keterampilan, sikap, dan keyakinan.

2.Metode Yang Secara Khusus Dipelajari Oleh Pendidik
Pendidik harus mempunyai kematangan dalam metode-metode. Dia harus menguasai ilmu pengajaran (didaktik) untuk menguasai metode-metode mengajar seperti ceramah, diskusi, bermain peran dan sebagainya.
Seorang pendidik tidak serta-merta bisa mentransformasikan materi pendidikan dengan baik tanpa menguasai metode-metode khusus, dan dia tidak akan bisa menguasai metode tersebut tanpa adanya spesialisasi sebuah disiplin ilmu, seperti wawancara, studi kasus, dan observasi yang harus dipelajari oleh calon knselor sebagai bimbingan dan konseling.

3.Metode Yang Khusus Digunakan Untuk Menilai Pelaksanaan Program Pendidikan.
Pada umumnya metode ini disebut dengan metode penelitian pendidikan, jadi metode ini digunakan dalam rangka pengembangan dan kemajauan pendidikan, antara lain dari metode ini adalah survai, eksperimen yang menggunakan alat ukur seperti tes, wawancara, observasi, kuesioner.

Selanjutnya dalam menyampaikan materi pendidikan ada beberapa pendekatan dengan macam-macam metode yang efektif sesuai dengan penawaran al-Qur’an dan metode para ahli pendidikan islam terdahulu melalui pengalaman mereka. Kami disini akan mengulas metode penyampaian materi melalui dua sisi, yaitu, metode dari sisi internal materi dan metode dari sisi eksternal materi.

a.Metode Internal Materi
Yang dimaksudkan disini adalah cara penyampaian bahan materi pelajaran yang efektif agar cepat dipahami oleh peserta didik. Jadi titik tekan metode ini adalah pemahaman materi pendidikan yang meliputi teks ataupun Non-teks. Di antra metode-metode tersebut adalah:

1.Metode Induktif
metode ini bertujuan untuk membibimbing peserta didik untuk mengetahui fakta-fakta dan hukum-hukum umum melalui jalan pengambilan kesimpulan atau induksi. Dalam melaksanakan metode ini pendidik hendaknya memulai dari bagian-bagian yang kecil untuk sampai pada undang-undang umum, pendidik memberi contoh detail yang kecil, kemudian mencoba memandingkan dan menentukan sisfat-sifat kesamaan untuk mengambil kesimpulan dan membuat dasar umum yang berlaku terhadap bagian-bagian dan contoh-contoh yang sudah diberikan maupun yang belum diberikan.

Untuk memudahkan pembaca kami akan mengemukakan contoh: misalnya dalam pembelajaran gramatika arab (nahwu), misalnya seorang guru membahas tentang satuan-kesatua yang bisa membentuk kalam, maka dia terlebih dahulu harus memaparkan isim, fi’il, dan huruf dan yang bersangkutan dengannya, setelah memberikan contoh-contoh yang detail dan pengklasifikasian yang jelas baru seorang guru memberi kesimpulan secara umum dari berdirinya kalam itu.

Metode ini bisa digunakan ilmu pengetahuan, seperti fiqhih, matematika, tehnik, fisika, kimia dan lain sebagainya. Akan tetapi metode ini sangat ketika dilaksanakan pada pelajaran yang bertujuan untuk pengembangan dan pembinaan keterampilan tangan atau kesenian, sseperti melukis, menggamar dan bermain musik.
Metode induktif ini telah digunakan oleh para pendidik muslim terdahulu sebelum muculnya Roger Bcon dan Francis Bacon sang pencetus metode.

2.Metode Perbandingan
Metode ini dapat juga disebut dengan metode diduktif yang menjadi kebalikan dari induktif, dimana perpindahan menurut metode ini dari yang umum kepada yang khusus, jadi metode ini sangat cocok bila digunakan pada pengajaran sains, dan pelajaran yang mengandung perinsip-perinsip, hukum-hukum, dan fakta-fakta umum yang dibawahnya mengandung masalah-masalah cabang. Metode ini sebagai pelengkap dari metode induktif, maka sebaiknya seorang guru menggabungkan diantara dua metode tersebut.
Metode ini juga telah digunakan oleh para tokoh pendidikan islam sebelumanya dalam perbincangan dan pembuktian kebenaran pikiran dan kepercayaan terhadap karya-karya mereka, terutama ketika mereka menghubungkan dengan ilmu logika.

3.Metode Diskusi Atau Dialog
Untuk lebih mendalam dalam pemahaman meteri maka dimunculakan diskusi atau dialog yang dikemas dengan tanya jawab. Metode ini juga mendapat respon dari al-Qur’an pada surat al-Ankabut ayat 125 (dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang paling baik).
Diskusi atau dialog harus dilaksanakan dengan cara yang baik. Cara yang baik ini perlu dirumuskan lebih lanjut, sehingga timbullah etika berdiskusi, misalnya tidak memonopoli pembicaraan, saling menghargai pendapat orang lain, kedewasaan pikiran dan emosi, berpandangan luas dan sebagainya.

b.Metode Eksternal Materi
Pelaksanaan proses pendidikan tentunya tidak cukup hanya pada pemahaman materi saja, namun yang terpenting dan yang menjadi esensi dari pelaksanaan pendidikan tersebut adalah pendemonstrasian dan transformasi pada kehidupan riil. Maka hal ini yang kami sebut dengan sisi eksternal materi yang sangat urgen dalam pemilihan metode penyampaiannya.

Dibawah ini adalah metode yang perlu diperhatikan demi terwujudnya esensialitas pendidikan:

1.Metode Teladan
Keteladanan merupakan bahan utama dalam pendidikan, karena mendidik bukan sebatas penyampaian materi saja, melainkan membangun karakter dalam setiap jiwa peserta didik, oleh karena itu pendidik mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap peserta didik mengenai tingkah laku dan perbuatannya yang dapat dibuat contoh dan di ikutinya. Dalam al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat di belakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Sehingga terdapat ungkapan uswatun hasanah yang artinya teladan yang baik.

Kalau dipandang dari ketokohan yang mendapat predikat uswatun hasanah adalah Nabi Muhammad SAW. Sayyid Quthb, mengisyaratkan bahwa didalam diri Nabi Muhammad, Allah menyusun suatu bentuk sempurna metodologi islam. Metode ini sangat penting karena berkaitan dengan tanggung jawab moral bagi pendidik dalam membentuk jarakter atau akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.

2.Metode Kisah-Kisah
metode cerita atau kisah dianggap efektif dan mempunyai daya tarik yang kuat sesuai dengan sifat alamiah manusia yang menyenangi cerita, oleh karena itu isalam mengeksplorasikan cerita menjadi salah-satu tehnik dalam pendidikan. Dalam pernyataannya al-Qur’an mengulangi kata-kata cerita sebanyak 44 kali. Pada surat al-Baqarah pada ayat 30-39 misalnya berisi tentang dialog tuhan dengan malaikat.
Metode cerita sering kali dipakai oleh para pengajar terutama dijenjang pendidikan kanak-kanak (TK). Namaun diakui atau tidak peserta ddidik sangat senang ketika mendengarkan gurunya bercerita, termasuk juga kita sebagai mahasiswa.

3.Metode Pembiasaan
Menjadikan pembiasaan sebagai sebuah metode pendidikan memang sangat tepat, dalam pembiasaan peserta didik tidak dituntut secara serta merta menguasai sebuah materi dan melaksanakannya, memang dalam pemahaman sangat gampang namun dalam pengamalan yang agak sulit untuk terealisasikan, maka dari itu dibutuhkan sebuah proses dalam mencapainya, yaitu, melalui pembisaan. Al-Qur’an telah mengisyaratkan mengenai metode pembiasaan ini, seperti contoh, dalam kasus menghilangkan kebiasaan minum khamar, al-Qur’an memulai dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir Quraisy (Q.S al-Nahl, 16:67), dilanjutkan dengan menyatakan bahwa dalam khamar itu ada unsure dosa dan manfaat (Q.S al-Baqarah 2:219), dilanjutkan dengan larangan mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk (Q.S al-Nisa’ 4:43). Kemudian dengan menyuruh menjauhi minuman Khamar itu (Q.S al-Maidah 5:90). Demikianlah al-Qur’an menggambarkan tentang metode pembiasaan yang mana hal ini merubah dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik.

Muhammad Quthb dengan analisisnya terhadap ajaran islam dalam hubungan dengan kebiasaan mengatakan bahwa setiap kebisaan tidak ada hubungannya dengan asas-asas konsepsi, akidah dan hubungan langsung dengan Allah, telah digunting oleh islam secara radikal terlebih dahulu, karena ia tak ubahnya seperti borok-borok busuk dibadan yang harus dibuang, bila tidak, hidup akan berakhir.

E.Asas-asas Umum Metode Pendidikan
Pembahasan asas-asas umum dalam metode pendidikan ini merupakan tambahan penjelasan dan uraian agar kita tahu lebih spesifik sumber umum yang menjadi pertimbangan dalam mencetuskan sebuah metode pendidikan islam.
Sumber-sumber atau dasar-dasar umum ini dapat digolongkan dibawah macam dan katagore berikut:

1.Dasar Agama
Kalau membahas dasar agama tentunya kita tahu bahwa yang dimaksud adalah al-Qur’an dan al-Sunnah, begitu juga asas yang mendasari metode pendidikan dalam dunia islam, disamping kedua rujukan tersebut dalam hal metode pendidikan islam juga berdasarkan atas penelitian pengalaman-pengalaman orang-orang terdahulu (al-salafus shalih) dari para sahabat ataupun para pengikutnya dalam melaksanakan dakwah dan pendidikan sesuai dengan zaman mereka dan kebutuhan masyarakat setempat.

Metode pendidikan yang mengacu pada tiga landasan, yaitu al-Qur’an, al-Sunnah, dan amalan al-Salafus Salih sangat memberi peluang yang besar bagi pencerahan dan kemajuan pendidikan islam sejak pertama-kali munculnya islam hingga sekarang. Jika kita ambil al-Qur’an misalnya, maka diantara metode pendidikan yang dapat kita temukan sangat banyak, diantaranya: metode pendidikan sambil bekerja, metode kisah (cerita), metode ketauladanan yang baik, metode pengajaran dari sejarah, metode pembahasan akal, metode soal-jawab, metode pemberian contoh, metode perintah terhadap kebajikan dan larangan dari mengerjakan hal yang mungkar, metode hukuman dan balasan, metode dedukatif dan lain sebagainya.

Kemudian al-Sunnah dan amalan al-Salafus Shalih memberi tambahan penjelasan dan uraian teradap metode-metode yang ada dalam al-Qur’an. Tercetusnya metode-metode yang lebih terperinci sesuai dengan perkembangan zaman dan meluasnya wilayah islam keberbagai Negara yang telah memiliki metode-metode tersendiri dalam hal pendidikan, tentunya materi dakwah dan pendidkan islam membutuhkan metode-metode yang sesuai dengan masa dan keadaan masyarakat setempat, terutama ketika pendidikan islam berhubungan dengan falsafah dan logika Yunani agar pendidikan islam selau eksis dan relevan distiap masa dan keadaan. Yang penting tidak bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah.

2.Dasar Biologis
Dasar biologis yang berarti kematangan jasmani sangat mendorong dalam dunia pendidikan, jadi seorang pendidik harus mempertimbangkan secara seksama dan memperhatikan keadaan fisik peserta didik agar bisa kondusif dan konsentrasi dalam dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Pendidik harus memperhitungkan bahwa peserta didik mempunyai kebutuhan bio-fisik yang harus dipuaskan dan dipenuhi supaya tercapai penyesuaian jasmani yang sehat, seperti kebutuhan terhadap udara yang bersih, kebutuhan terhadap gerakan dan aktivitas, dan kabutuhan terhadap istirahat. Pendidik harus membantu peserta didik mendapatkan kematangan dalam jasmaninya, karena bagaimanapun kesehatan jasmani sangat mendukung terhadap aspek sikologis anak dalam menerima pelajaran dan pentransformasiannya.

Telah dibuktikan antara pertalian sisi jasmaniyah dan sikologis. “Latihan untuk menghafal sesuatu perlu kepada pemusatan yang berhubungan rapat dengan kematangan urat saraf. Juga telah diketahui bahwa kekuatan memusatkan perhatian dan jaraknya berpadan secara terbalik sesuai dengan lanjutnya umur dan sempurnanya kematangan.”

3.Dasar Psikologis
Dasar psikologis disini merupakan kekuatan jiwa seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, bakat, dan kecakapan intelektual yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik, karena tingkah laku anak didik secara umum dan proses belajarnya seca khas sangat dipengaruhi oleh factor-faktor psikologis dalam pembentukan sebuah karakter. Menurut ahli psikologis, tingkah laku manusia adalah satu akibat dan bertujuan dalam waktu yang sama. Maka dari itu seseorang memerlukan motivasi dan penggerak untuk melakukan suatu pekerjaan hingga berlanjut pada masa tertentu. Gura yang pintar akan menjadikan metode dan teknik mengajarnya sebagai stimulus bagi kegiatan anak didiknya,dan menjadi penggerak bagi motivasi-motivasi dan kekuatan-kekuatan pengajaran sehingga dapat menggali potensi yang ada dalam diri anaka dan mengaktualkannya.

Kebuthan sikologis yang harus dipelihara oleh seorang pendidik adalah ketentraman, kecintaan, penghargaan, kebebasan, pembaharuan, kejayaan, kebutuhan tergolong dalam kumpulan, dan kebutuhan kepada perwujudan (self actualization).

4.Dasar Sosial
Disamping dasar-dasar agama, biologis dan psikologis metode pendidikan perlu juga didasari pada aspek social, hendaknya seorang pendidik bisa menjaga persesuaian metode dengan nilai-nilai, tradisi yang berlaku ditengah-tengah masyarakat sesuai dengan tujuan, kebutuhan, dan harapannya. Seorang pendidik harus bisa menjaga perubahan sesuai dengan tuntutan yang berlaku dalam tatanan social dengan mengambil manfaat dari fasilitas dan peluang-peluang yang ada didalamnya dengan didasari atas metode pendidikan yang tepat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut sudut pandang filosofis dan teoritis materi dan metode merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, walaupun menurut paham dualisme itu tidak mungkin terjadi.

Metode adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan dengan jalan yang sudah ditentukan, dalam metode pendidikan dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ditentukan.
metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan, bahkan ada sebuah adagium yang menyatakan bahwa “metode lebih utama dari pada materi (al-taiqah aula min al-madah)”.

Dalam menerngkan tentang metode kami memaparkan dari tiga sudut pandang, dan selanjutnya memaparkan macam-macam metode penyampaian materi pendidikan. Adapun tiga sudat pandang itu, pertama adalah metode yang umum diphami oleh smua pendidik, yang kedua adalah metode yang secara khusus dipelajari oleh pendidik, dan yang terahir adalah metode yang khusus digunakan untuk menilai pelaksanaan program pendidikan.
Adapun cara penyampian materi pendidikan memakai metode sebagai berikut, pertam metode internal materi yang meliputi metode induktif, metode perbandingan, dan metode diskusi atau dialog. Yang kedua adalah metode eksternal materi yang meliputi metode teladan, metode kisah-kisah, dan metode pembiasaan.

Ada empat dasar secara umum yang menjadi pijakan kami dalam merumuskan metode pendidika, yaitu, dasar agama, dasar biologis, dasar psikologis, dan dasar social.

DAFTAR PUSTAKA

Zakiyah Darajat, DKK, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 1, 1996.
Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, Yogyaakarta: Pustaka Pelajar, Cet. 1, 2005.
Omar Mohammad al-Tomy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. 1, 2005.
Ziznuddin Alavi, Pemikiran Pendidikan Islam Pada Abad Klasik dan Pertengahan, Bandung: Angkasa, Cet. 1, 2003.
Wens Tanlain, Inggridwati Kurnia, A. Samana, G. Hardjanto, Kusdarwati, Joseph Niron, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Cet. 2, 1996.
Muhammad Quthb, System Pendidikan Islam, Bandung: PT. al-Ma’arif, Cet. 1, 1984.
Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sisitem dan Metode, Yogyakarta: Andi Offset, 1997.

November 5, 2008 at 5:43 pm 2 comments

Assesment Dalam Pembelajaran PAI

A. PENGERTIAN
Sesungguhnya, dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang diginakan, yakni pengukuran, assessment, dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Sementara pengertian assessment adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai pada taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi sendiri, secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian, Namun dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni :

1.Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu
2.Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan aras tujuan yang jelas
3.Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan

Meskipun memiliki banyak definisi, sebenarnya evaluasi pertama kali dikembangkan oleh Ralph Tayler (1950), yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Lalu dikembangkan lagi oleh dua orang ahli lain yakni, Cronbach dan Stuff lebeam .

Dilihat dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa secara teoritik ketiga istilah tersebut memiliki definisi berbeda. Namun, dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluai pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) dan pembandingan (assessment). Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa, assessment dan evaluasi adalah sama, karena merupakan sistem penilaian hasil belajar.

Dari uraian diatas sudah jelas sekali pengertian assessment, measurement, dan evaluasi. Adapun assessment dalam pembelajaran pendidikan agama islam, yaitu : Suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan didalam pendidikan agama islam.

B. TUJUAN DAN FUNGSI ASSESSMENT
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut :
1.Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.Untuk mengetahui efektifitas metode pembelajaran.
3.Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
4.Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa fdalam rangka perbaikan.

Selain memiliki beberapa tujuan seperti yang disebutkan diatas, assessment atau penelitian memiliki fungsi sebagai alat seleksi, penempatan, diagnostik, formatif, dan sumatif. Guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Adapu penjelasannya, sebagai berikut :
1.Fungsi selektif, dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan.
2.Fungsi penempatan, dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta didik) dapat mengikutu pendidikan pada jenis atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
3.Fungsi diagnostik, dilaksanakan untuk mengidentifikasikan kesulitan belajar yang dialami peserta didik.
4.Fungsi formatif, dilaksanakan untuk memberikan umpan balik guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan remedial atau perbaikan bagi murid.
5.Fungsi sumatif, dilaksanakan untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing murid.

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa assessment merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan assessment atau penilaian, guru dapat mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian peserta didik.

C. PENDEKATAN, PRINSIP DAN ACUAN ASSESSMENT
Dalam melakukan assessment, harus dilakukan pendekatan. Adapun pendekatan- pendekatan tersebut adalah :
•Menggunakan berbagai teknik.
•Menekankan hasil dengan memperhatikan input dan proses.
•Melihat dari perspektif taksonomi tujuan pendidikan, menilai perkembangan secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sesuai karakteristik mata pelajaran.
•Menerapkan standar kompetensi lulusan.
•Menerapkan sistem penilaian acuan kriteria dan standar pencapaian yang konsisten.
•Menerapkan penilaian otentik untuk menjamin pencapaian kompetensi.
Adapun prinsip-prinsip assessment, yaitu :
•Penilaian merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran.
•Mencermnkan masalah dunia nyata.
•Menggunakan berbagai ukuran, metode, teknik, dan kriteria sesuai dengan karakteristik dan essensi pengaloaman belajar.

Selain pendekatan dan prinsip dalam assessment, hal yang paling penting yang tidak boleh dilupakan adalah acuan dalam assessment, adalah acuan kriteria. Sebab, kriteria digunakan asumsi bahwa hampir semua orang belajar apapun akan mampu, hanya kecepatan dan waktunya yang berbeda. Asumsi tersebut mengindikasikan perlunya program perbaikan atau remidial. Namun demikian, agar sistem assessment memenuhi prinsip kesahihan dan keandalan, maka harus memperhatikan :
•Aspek menyeluruh
•Berkelanjutan
•Berorientasi pada indikator ketercapaian
•Sesuai dengan pengalaman belajar

D. OBJEK ASSESSMENT
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian adalah apa yang harus dinilai itu. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus terlebih dahulu melihat kembali fungsi dari assessment, yaitu sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar peerta didik. Menurut Horward kingsley, proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam mencapai tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya.

Selain pendapat Horward, masih banyak pendapat-pendat lain mengenai proses dan hasil belajar .Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut akhirnya diperoleh hasil pengklasifikasian secara garis besar, yang diungkapkan oleh Benyamin Bloom. Dimana benyamin membaginya menjadi tiga ranah atau objek, yaitu Kognitif, afktif dan psikomotorik.

1. KOGNITIF
Ranah kognitif berkenaan engan hasil belajar intyelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu :
•pengetahuan (recalling), kemampuan mengingat, misalnya: mengingat nama nabi
•pemahaman (comprehension), kemampuan memahami, misalnya: menyimpulkan suatu paragraf
•aplikasi (application), misalnya :menggunakan suatu informasi untuk memecahkan suatu masalah
•analisis (analysis), misalnya menganalisis suatu bentuk
•sintesis (syntesis), misalnya : menformulasikan hasil ceramah dosen dikelas dengan lingkungan sekitar
•dan evaluasi (evaluation), kemampuan mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.

2. AFEKTIF
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, dsb. Jika dalihat lebih dalam, pelajaran yang diberikan lebih banyak mengarah pada ranah kognitif, meskipun demikian ranah afektif tetap harus menjadi bagian intyegral dalam proses pembelajaran.

Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar, yaitu :
•Menerima (receiving) termasuk kesadaran, keinginana untuk menerima stimulus, respon, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
•Menanggapi (responding) reaksi yang diberikan, ketepatan aksi, perasaan,dll.
•Menilai (evaluating) kesadaran menerima apa yang diberikan oleh para pendidik.
•Mengorganisir(organiation) pengembangab norma dan nilai.
•Membentuk watak (characterization) sistem nilai yang terbentuk mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku.

3. PSIKOMOTORIK
Psikomotorik merupakan tindakan seseorang yang dilandasi penjiwaan atas dasar teori yang dipahami dalam suatu mata pelajaran. Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan dan kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotorik diarahkan untuk menggali beberapa gerakan, ucapan, dan pengamalan keagamaan, seperti:
•Gerakan wudlu, shalat
•Ucapan bacaan Al-Qur’an-qur’an dalam shalat
•Ucapan kalimat thayyibah
•Pengamalan, kebiasaan berdzikir, berdoa, maupun membaca Al-Qur’an-qur’an.

Adapun tingkatan ketrampilan alam psikomotorik, yaitu :
•Gerakan refleks (ketrampilan pada gerakan yang tidak sadar)
•Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar
•Kemampuan perseptual
•Kemampuan di bidang fisik
•Gerakan-gerakan skill, mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang kompleks
•Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi

E. PENILAIAN BERBASIS KELAS (PBK)
Penilaian berbasis kelas(PBK) merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. PBK mengidentifikasikan pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan
PBK merupakan arti penilaian sebagai assessment, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran. Data atau informasi dari penilaian di kelas ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur kebrrhasilan suatu program pendidikan.

Pada pelaksanaan PBK, peranan guru sangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. PBK yang dilaksanakan oleh guru, harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya, dan bagi siswa sevara individu pada khususnya. Adapun fungsi PBK, yaitu :
1.Memberikan umpan balik bagi sisa mengenaim kemampuan dan kekurangannya
2.Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa
3.Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya
4.Memungkinkan siswa mencapai kometensi yang telah ditentukan.

Selain fungsi PBK memiliki beberapa tujuan, yaitu :
1.Mengetahui kemajuan belajar siswa
2.Mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi berbagai komponen pembelajaran
3.Menentukan tindak lanjut pembelajaran bagi siswa
4.Membantu siswa untuk memilih bidang pendidikan sesuai dengan minat dan bakatnya.

Adapun prinsip-prinsip PBK haruslah sangat diperhatikan, yaitu :
1.Valid, PBK harus mengukur objek obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih
2.Mendidik, PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa
3.Berorientasi pada kompetensi
4.Adil dan objektif
5.Terbuka, PBK Hendaknya dilakukan secara terbuka bagi semua kalangan
6.Berkesinambungan, PBK harus dilakukan secara terus-menerus
7.Menyeluruh, PBK harus menyeluruh dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
8.Bermakna, PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak

DAFTAR PUSTAKA

•Arikunto, Suharsini, 2005.Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan.Jakarta: Bumi aksara
•Zuhairini,1983.Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam.Surabaya: Usaha nasional
•Majid, Abdul, 2005.Perencanaan Pembelajaran.Bandung: Rosda karya
•Nasution, 2003.Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar.Jakarta: Bumi aksara
•Hamalik Oemar, 2004.Perencanaan Pengajaran.Jakarta: Bumi aksara
•Sudjana, Nana, 2005.Penilaian hasil proses belajar mengajar.Bandung: Rosda karya
•Nurkancana, Wayan, 1986. Evaluasi Pendidikan.Surabaya: Usaha nasional
•Mulyasa,2003.Kurikilum Berbasis Kompetensi.Bandung:Rosda karya

November 2, 2008 at 7:34 pm Leave a comment

Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam

Oleh : Abd. Ghani

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:
“Filsafat Pendidikan Islam”

BAB I
PENDAHULUAN

Makalah yang kami susun ini, secara general mencoba untuk mengkaji salah satu unsur proses pendidikan islam, yaitu mengenai kurikulum dalam pendidikan islam. Dalam uraian yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu ; pentingnya kurikulum dalam kehidupan masyarakat, Negara, dan bagi kedua orang tua sebagai orang peratama dalam melaksanakan pendidikan islam, dan yang menjadi salah satu indicator yang sangat penting didalamnya, dan juga membahas tentang konsep kurikulum modern dan pendidikan islam, prinsip-prinsip pendidikan umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam, aspek-aspek kuruikulum, asas-asas kurikulum dan dasar-dasar kurikulum dalam pendidikan islam.

Sedangkan pembahasan dalam masalh ini bersifat ringkas dan praktis, sekedar menyebutkan dan membahas masalah yang sangat penting dan mengkhususkan pada pembahasan mengenai dasar-dasar kurikulum dan prinsip-prinsip umum dalam kurikulum. sedang sedangkan tujuan pokok dalam makalah ini adalah memberi pengrtian ringkas singkat dan jeneral tentang sifat-sifat filsafal kurikulum dalam pendidikan islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Kurikulum Dalam Pendidikan Islam
Kurikulum berasal dari kata curriculum yang berarti bahan pengajaran. Sebenarnya banyak pendapat mengenai kurikkulum ini, tetapi kami mengamil yang lebih mudah dipahami dan yang sudah lumrah bahwa kurikulum diartikan bahan pengajaran. Dan juga ada yang berpendapat bahwa kurikulum berasal dari bahasa prancis currier yang berarti berlari. Selanjutny kurikulum menurut istilahnya adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Crow, kurikulum adalah rancangan pengajaran yang berisi sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan sauatu program pendidikan tertentu. Sementara kurikulum dalam zaman modern ini mempunyai makna sejumlah kekuatan. Factor-faktor pada lingkungan pengajaran pendidikan oleh sekolah bagi murid-muridnya baik didalam maupun diluar sekolah, dan sejumlah pengalaman yang lahir dari interaksi dengan kekuatan-kekuatan dan factor-faktor itu. Sedangkan pengertian kurikulum pendidikan islam dalam bahasa arab adalah manhaj (jalan terang) yang dilalui oleh pendidik atau guru dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mulia mereka.

B.Ciri-ciri Kurikulum dalam Pendidikan Islam
Untuk memahami kuriulum dalan dunia pendidikan islam, kita tidak cukup hanya mengetehui pengertian urikulum saja, tetapi kita juga perlu memahami cirri-ciri dan eistimewaan-keistimewaan kurikulum pendidikan islam yang tentunya juga menjelaskan sebagian sifat-sifat kurikulum dalam pendidikan islam.

Diantara cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam adalah:
1.menonjolkann tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode, dan tekniknya yang bercorak agama.
2.meluas cakupan dan menyeluruh kandungannya. Disamping itu kurikulum pendidikan islam juga memperhatikan dan membimbing terhadap segala pribadi pelajar baik dari segi intelektual, psikologis, social dan spiritualnya. Disamping menaruh perhatian kepada pengembangan dalam aspek spiritual bagi pelajar, dan membina aqidah yang benar, dan menguatkan hubungannya dengan tuhan, kurikulum pendidikan islam juga menaruh perhatian dalam pengembangan akal pelajar dan mengembangkan sesuatu yang berkaitan dengan akal.
3.keseimbangan yang relatif diantara kandungan-kandungan kurikulum dari barbagai aspek ilmu pengetahuan. Menghubungkan keseimbangan ini dengan sifat relatif karena kita telah tahu bahwa tidak ada keseimbangan yang mutlak pada kurikulum pengajaran, tapi tidak pada pendidikan islam atau pendidikan yang lain.
4.bersikap menyeluruh dalam meneta mata pelajaran yang diperlikan anak didik.
5.kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan bakat dan minat anak didik. Dari sisi lain pendidikan islam juga bersifat dinamis dan sanggup menerima perkembangan dan perubahan apabila dipandang perlu.

C.Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam
Setelah kita mengetahui berbagai ciri-ciri kurikulum pendidikan islam, untuk melengkapinya maka perlu kita tau prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam dan dasar-dasar serta sumber yang menjadi tumpuan kurikulum pendidikan islam.

Prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar dari kurikulum pendidikan islam adalah sebagaimana berikut :
1.prtautan sempurna dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-nilainya. Oleh karena itu setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk filsafat, tujuan-tujuan, kandungan-kandunga, metode pengajaran, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga pendidikan islam harus berdasarkan pada agama dan akhlak islam, harus pula harus terisi dengan jiwa agama islam.

Dan prinsip-prinsip ini harus dijaga dan dipelihara bukan hanya tehadap ilmu-ilmu syariat dan pengajian islam saja, tetapi pada segala yang terkandung dalam kurikulum termasuk ilmu akal, dan segala macam kegiatan dan pengalaman, sebab semuanya harus berjalan selaras dengan agama dan akhlak yang mulia.
2.menyeluruh pada tujuan-tujuan kurikulum yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik. Oleh karena itu apabila segala tujuan harus meliputi segala aspek kepribadian peserta didik, maka segala kandungannya harus meliputi segala yang berguna untuk membina pribadi peserta didik.
3.keseimbangan relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum. Kalau kurikulum memberi perhatian besar kepada perkembangan spiritual dan ilmu-ilmu syariat , maka aspek spiritual itu tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan.
4.kurikulum berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik. Tidak hanya itu, kurikulum pendidikan islam juga berkaitan dengan alam sekitar, fisik dan social dimana peserta didik itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran, pengalaman, danjuga sikapnya.
5.pemeliharan perbedaan individu diantara para peserta didik dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, dan segala masalahnya. Disamping itu juga menjaga kelainan kelamin diantara alam sekitar danmasyarakat. Karena semua ini dapat membuahkan kesesuaian kurikulum dengan segala yang dibutuhkan oleh peserta didik dan masyarakat, dan juga menambah segala fungsi dan gunanya.
6.menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Islam yang menjadi sumber falsafah, prinsip-prinsip, dasar-dasar kurikulum. Oleh karena itu yang berperan penuh dalam pengambangan dan merubah kurikulum pendidikan islam ini adalah semua umat islam apabila dipandang adanya maslahat bagi masyarakat kalau perubahan ini dilaksanakan.
7.berkaiatan dengan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas-aktifitas yang terkndung dalam kurikulum. Kurikulum pendiikan islam sangat tidak setuju pada kurikulum yang tidak tersusun mata pelajaran, dan pengalamannya.

D.Aspek-aspek Kurikulum Pendidikan Islam
1.tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh kurikulum itu.
2.pengetahuan, ilmu-ilmu, data, aktivitas-aktivitas, dan pengalaman yangmenjadi sumber terbentuknya kurikulum.
3.metode dan cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh pesrta didik untuk mendorong mereka kearah yang dikehendaki oleh tujuan yang dirancang.
4.metode dan cara penelitian yang digunakan dalam mengukur hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.

E.Dasar Umum Yang Menjadi Landasan Kurikulum Pendidikan Islam
Dengan penjelasan yang kami utaraka dimuka, maka bias ditarik sebuah kesimpulan, sejumlah dasar umum bagi krikulum pendidikan islam yaitu:
a)Agama
Mengenai dasar yang pertama ini, maka segala sistem yang ada dalam kehidupan masyarakat termasuk sistem pendidikan harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada agama Islam atau syariat Islam dan sesuatu yang terkandung didalamnya. Sedangkan segala sember dari semuanya adalah Kitab Allah dan Sunnah Nabi SAW. Setelah kedua sumber ini maka barulah muncul beberapa sumber yang lainnya yang berlandasan pada keduanya, baik itu menguraikan apa yang terkandung didalamnya atau memperluas hokum-hukum furu’ dari dasar-dasar dan hukum-hukum umum yang terkandung pada keduanya.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan ini, maka kurikulum dalam pendidikan islam itu harus menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-akatnya. Dari uraian tersebut kurikulum pandidikan islam harus mengandung segala ilmu yang bermanfaat dalam agama dan dunia. Islam tidak menghalangi seseorang untuk mempelajari ilmu manapun yang itu berguna, selama kajian itu diterapkan dalam dalam akidah dan akhlak.

b)Falsafah
Suatu sistem yang mempunyai watak yang berdiri sendiri dan cirri-ciri yang khas yang memperoleh wujudnya dari wahyu Tuhan, bimbingan Nabi yang utama, dan peninggalan pemikiran Islam yang benar disepanjang zaman dan waktu.

c)Psikologis
Disamping dua dasar kurikulum pendidikan islam itu, adala lagi dasar ketiga yang sangat berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kematangan bakat-bakat, intelek tual, emosi, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan minat, kecakapan yang bermacam-macam, dan pemikiran merekan yaitu dasar psikologis. Semua itu tidak diabaikan oleh kurikulum pendidikan Islam dan metode-metode pengajaran. Bukan hanya itu, para pendidik selalu mengajak dan menghargai hal itu dalam menentukan kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan peserta didik.Sedangkan dalam kurikulum pedidikan Islam sendiri, juga mengajak dan menggalakkan dalam membantu perkembangan peserta didik yang sesuai dengan kematangan dan bakatnya masing-masing.
Dalam pemikirn Islam tidak melarang mendalami dan mengkaji psikologi ini pada peserta didik dinegeri Islam mapun, selagi sesui dengan pertimbangan-pertimbangan dan tujuan-tujuan kurikulum, kandungannya, serta susunan dan pelaksanaannya.

d)Sosial
Social juga menjadi dasar utama dalam kurikulum pendidikan Islam yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dalam pendidikan dan dan kebudayaannya yang bersifat umu atau khusus. Dari penjelasan tersebutu diatas maka jelaslah bahawa kurikulum pendidikan islam itu diterapkan dalam kerangka masyarakat yang memiliki identitas khas dan kepribadian budayanya. Oleh karena itu kurikulum pendidikan Islam berkewajiban untuk menguatkan hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya dalam menentukan tujuan-tujuannya, penyusunan kurikulumnya, dan metode-metode pengajarannya.

Sedangkan tugas dari kurikulum pendidikan Islam yang berkaitan dengan social, yaitu turut serta dalam proses pemasyarakatan bagi peserta didik, penyesuaian mereka dengan masyarakat Islam dimana mereka hidup, memperoleh kebiasaan dan sikap yang baik pada masyarakatnya, serta cara berfikir dan tingkah laku yang diinginkan, cara bergaul yang sehat, sikap kerjasama dan menghargai tanggungjawab.
Inilah yang menjadi dasar utama kurikulum pendidikan islam. Dari penjelasan tersebut maka jelaslah bahwa kurikulum pendidikan islam telah mempertimbangan dalam segala aspek baik itu dalam tujuan-tujuan dan metode-metodenya.

F.Tujuan Kurikulum Pendidikan Islam
Bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pendidikan islam pada masa sekarang ini nampaknya semakin luas. Hal tersebut karena dipicu oleh kemajuan beberapa ilmu pengetahuan dan kebudayaan , disamping itu juga karena bertambahnyha beban yang harus ditanggung oleh pihak sekolah.

Oleh kerena tuntutan perkembangan yang sedemikian rupa, maka para perancang kurikulum pendidikan Islam memperluas cakupan yang dikandung oleh kurikulum tersebut, antara lain yang berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar.

Berdasarkan penjelasan diatas maka kurikulum pendidikan Isalam mempnyai tujuan untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh dan perpadu dengan kepribadian para peserta didik. Disamping itu kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai tujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam, memperkuat keprinbadian islam yang berdiri sendiri.

BAB III
KESIMPULAN

Kegemilangan pendidikan Islam memandang kepada kurikulum sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaan, bakat, minat, dan keterampilan mereka yang bermacam-macam, serta menyiapkan mereka untuk menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.
Tidak lepas dari tujuan umum dalam pendidikan islam, bahwa kurikulum pendidikan islam juga sangat berperan dalam mendidik para generasi muda khususnya dalam keagamaan dan akhlak yang mulia, agar terbentuk para generasi muda yang tidak hanya punya intelektual yang tinggi tetapi tidak bermoral.

Sementara pada zaman modern ini kurikulum pendidikan Islam telah berkembang untuk membentuk manusia yang sehat dan kuat jasmaninya dan mementingkan kecerdasan otak, berlkembang menjadi sejumlah pengalaman pendidikan, yang difasilitasi oleh berbagai sekolah dengan tujuan menolong berkembangan secara menyeluruh dalam segala bidang yng diperlukan dalam kehidupan sehari-hari atau dihari ahir nanti.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, S., Pengembangn Kurikulum Pendidikan, bandung: Citra Adirya Bakti, 1991.
Crow and Crow, Pengantar Ilmu Penddikan, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990, edisi III.
Mc. Neil, John, Kuikulum: Sebuah Pengantar Komprehensip (terj. Subandi), Jakarta: Wirasari, 1988.
Sulaiman, Qurah, Hussein, al-Usul al-Tarbiyah Fi Bina Al-Manahij, kaherah: dar E1 Maarif, 1975.
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Media Pratam, 2005.
Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Toumy Al-syaobany, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1975.
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grofindo Persada, 1990.

November 2, 2008 at 7:15 pm Leave a comment


Calender

November 2014
M T W T F S S
« May    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Tulisan Terbaru

Blog Stats

  • 150,452 hits

Pages

RSS Blog Update

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.